Salah satu nilai filofosi cikal atau tunas kelapa di Gerakan Pramuka adalah mudah hidup di berbagai tempat dan kondisi. Hal itu bermakna setiap pramuka mampu menyesuaikan diri atau mempunyai kemampuan beradaptasi di segala situasi dan kondisi lingkungannya. Nah, seperti saat pandemi Covid-19 ini, tentu pramuka harus mampu menyesuaikan diri saat wabah merebak. Namun tetap berkreativitas tanpa batas, misalnya dengan menjalankan latihan kepramukaan secara dari yang mengasyikkan.

Setelah hampir dua bulan virus ini menyebar di Tanah Air, tidak dipungkiri mempengaruhi hampir segala lini kehidupan manusia berikut aktivitasnya. Pembatasan mulai diberlakukan, kerumunan dilarang hingga sekolah diliburkan. Kebijakan yang bertujuan untuk memutus mata rantai wabah ini pun harus ditempuh demi kepentingan bersama. Walau dampak dari wabah ini begitu signifikan dan juga mempengaruhi berbagai aktivitas kepramukaan, namun bukan berarti kegiatan kepramukaan sebagai bagian dari pendidikan nasional ini juga harus terhenti.

Artinya, di tengah wabah pun ada banyak aktivitas kepramukaan yang bisa dilakukan. Dari beberapa observasi ke beberapa pembina pramuka , di masa pandemi ini kepramukaan seoptimal mungkin dilaksanakan. Dan salah satu sarananya dan salurannya adalah media daring, membust konten-konten positif dan kegiatan pengabdian dengan standar keamanan yang baik. Namun begitu memang, kerinduan berkegiatan kepramukaan sulit dihindari.

Salah seorang pembina menjelaskan, awal penyebaran virus ini dengan turunan kebijakan pemerintah yang menyertainya begitu terasa bagi aktivitas kepramukaan. Bagaimana tidak, giat kepramukaan yang identik dengan pertemuan, latihan bersama, praktik keterampilan atau learning by doing kini terhambat karena wabah.

Kebanyakan metode kepramukaan tentu bertentangan dengan physical distancing atau jaga jarak dan sosial distancing atau pembatasan sosial. “Namun, setiap pramuka dituntut untuk bisa menemukan solusi, mencari jalan keluar atau problem solving di saat seperti ini. Jadi tidak ada halangan untuk tetap berpramuka hanya saja saat ini caranya yang berubah. Menyesuaikan situasi, itulah yang makna yang terkandung dalam lambang tunas kelapa,” paparnya.

“Intinya, agar pembina tetap berinteraksi dengan peserta didik dalam kepentingan pembinaan nilai-nilai kepramukaan. Jadi saat ini bisa kita akali sama dengan pendidikan formal saat ini yaitu menggunakan media daring. Latihan pramuka secara daring bisa dilakukan dan ternyata banyak hal yang bisa digali dari anak didik. Seperti keterampilan penggunaan teknologi informasi, kemandirian pesdik, kesungguhan dan lainnya. Namun tetap dibalut dalam nuansa kepramukaan tentunya,”

Senada dijelaskan pembina pramuka jawa timur Sesuai edaran Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tentang tidak melakukan kegiatan kepramukaan yang mengumpulkan banyak orang yang berujung pada penundaan sejumlah kegiatan kepramukaan berskala nasional. Namun, ia menerapkan cara lain agar tetap terhubung dengan kepramukaan di Gugusdepan 11.209-11.210 pangkalan Madrasah Aliyah AL HIDAYAH. “Agar tidak terhenti kegiatan pramuka saat wabah, latihan rutin mingguan digelar online dengan berbagai aplikasi. Seperti pembelajaran sekolah. Walau pun tidak ke sekolah dan tetap di rumah, anak didik tetap kita libatkan untuk bisa berkreasi dari rumah mengasah kepramukaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seperti baru-baru ini, materi teknologi tepat guna (TTG) pun disajikan secara daring. “Sasarannya kenaikan tingkat dan pemenuhan SKU. Jadi, syarat kecakapan yang dipenuhi lalu diujikan secara daring. Materi TTG diberikan, lalu mereka kerjakan mandiri dari rumah dan hasilnya diunggah di Youtube. Di situ penilaian pembina, hingga anak didik layak untuk kenaikan tingkat dari calon penegak ke penegak bantara dan bantara ke laksana,” jelasnya.

Ditambahkannya, materi yang disuguhkan juga termasuk syarat pencapaian kecakapan khusus atau SKK. Sehingga nanti diharapkan, saat wabah ini selesai, mereka punya nilai tambah dan keterampilan serta layak dilantik kenaikan tingkatnya. Sebagai pembina pramuka juga harus lebih kreatif di saat seperti ini, menyediakan ruang bagi pesdik yang menarik juga efektif di masa wabah.  “Pembina juga harus mengambil bagian saat ini, jangan terhenti karena wabah. Banyak cara yang bisa dilakukan,” ujarnya

Ia mengajak pembina pramuka agar tetap melakukan aktivitas pembinaan di masa wabah ini. Dengan cara mengoptimalkan teknologi informasi, nilai dan esensi pembinaan karakter lewat kepramukaan harus terus berlanjut. Hal tersebut ia utarakan karena melihat masih banyak aktivitas mingguan kepramukaan yang terhenti karena terhalang Covid-19. “Melihat peserta didik yang milenial, tentu penggunaan teknologi akan lebih mudah, nah pembina pramuka juga harus menyesuaikan,” jelasnya.

Latihan mingguan daring ini ternyata mendapat antusias dari pesertanya. Diskusi daring yang asyik pun jadi sering dilakukan sekadar membahas tugas dari pembina atau bercengkrama virtual tanda kerinduan berkegiatan. Respon dari pramuka yang bersungguh-sungguh belajar dapat dirasakan walau lewat layar monitor. Karena pramuka adalah kumpulan orang-orang yang senang berlatih. Mengasah diri, menguji emosi dan mengembangkan pribad

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *